Nobar dan Diskusi Film Pesta Babi: Dari Papua ke Banjarnegara, Militerisme dan Kapital Mengancam Tanah Rakyat
Banjarnegara, 24 Mei 2026, Tujuh organisasi lintas sektor menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film Pesta Babi pada Minggu malam, 24 Mei 2026, bertempat di Shankara Tani School, Banjarnegara. Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WIB ini dihadiri lebih dari 50 orang, melampaui 30 peserta yang sebelumnya mendaftar secara daring, ditambah warga sekitar yang turut bergabung secara spontan. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi tujuh komunitas dan organisasi: Sekutu Buku, Lumbung Literasi Banjarnegara, Shankara Tani, Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Banjarnegara, Serikat Petani Kalitlaga, Pemuda Muslimin, dan Aliansi BEM Banjarnegara. Diskusi dipandu oleh Endan dari Sekutu Buku selaku moderator, dengan menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang yang beragam.
Militerisme dan Kapital sebagai Dua Wajah Satu Ancaman
Sahid dari Shankara Tani membuka diskusi dengan memetakan dua kekuatan yang ia sebut sebagai penggerak utama konflik agraria di Indonesia: militerisme dan kepentingan kapital. Menurutnya, kedua kekuatan ini tidak bekerja sendiri-sendiri, mereka saling menopang dan menciptakan kondisi di mana pengambilalihan tanah rakyat dapat berlangsung secara sistematis. Sahid menegaskan bahwa peristiwa yang digambarkan dalam Pesta Babi bukan kejadian tunggal yang terisolasi di Papua. Ia adalah satu potret dari pola yang lebih luas dan lebih tua. Pola di mana institusi militer hadir bukan untuk melindungi rakyat, melainkan untuk mengamankan kepentingan modal. Kabupaten Banjarnegara dan daerah-daerah lain di Indonesia, kata Sahid, tidak kebal terhadap pola yang sama.
Merusak Alam adalah Pelanggaran Agama
Aris dari Kader Hijau Muhammadiyah (KHM) Banyumas Raya memperluas diskusi dengan membawa perspektif fiqih agraria, sebuah kerangka pemikiran Islam tentang hubungan manusia dengan bumi dan sumber daya alam. Aris menegaskan bahwa dalam tradisi hukum Islam, alam bukan sekadar sumber daya yang boleh dieksploitasi tanpa batas. Bumi adalah amanah yang harus dijaga, dan tindakan merusaknya secara sengaja - apalagi untuk keuntungan segelintir pihak - bertentangan langsung dengan prinsip-prinsip syariat. Ia menekankan bahwa perjuangan mempertahankan tanah dan lingkungan hidup bukan hanya soal hak ekonomi atau hak asasi, tetapi juga soal pertanggungjawaban moral dan keagamaan. Argumen ini memberi dimensi baru dalam diskusi yang selama ini kerap didominasi oleh pendekatan hukum dan politik semata.
Ancaman Itu Sudah Ada di Banjarnegara
Dari Serikat Petani Kalitlaga, Awan memberikan pembacaan yang paling langsung. Apa yang terjadi di Papua dalam film tersebut bukan skenario yang mustahil terjadi di Banjarnegara. Sebagian dari skenario itu, ia katakan, sudah berjalan. Awan menyebut dua kasus konkret. Pertama, pembukaan lahan hutan di kawasan Gunung Rogojembangan, Wanayasa, yang berlangsung tanpa pelibatan bermakna dari masyarakat sekitar dan berpotensi merusak ekosistem yang selama ini menjadi penopang kehidupan petani setempat. Kedua, pembangunan batalion militer di Punggelan dan Wanadadi yang prosesnya akan mengakibatkan penggusuran lahan pertanian milik warga - sebuah pengulangan nyata dari pola yang digambarkan dalam film Pesta Babi. Militer hadir, tanah berpindah tangan, dan rakyat tidak punya banyak pilihan.
Persoalan Banjarnegara yang Lebih Luas
Diskusi tidak berhenti pada ketiga narasumber. Peserta membuka ruang untuk membicarakan persoalan agraria dan penghidupan di Banjarnegara secara lebih menyeluruh. Salah satu isu yang mencuat adalah sedimentasi Bendungan Jenderal Sudirman. Pendangkalan yang terus berlangsung mengancam kapasitas tampung air bendungan, yang pada gilirannya berdampak langsung pada irigasi pertanian di kawasan sekitarnya. Hingga kini belum ada langkah pemulihan serius yang dapat dirasakan oleh petani yang menggantungkan lahannya pada pasokan air dari bendungan tersebut. Sedimentasi ini persoalannya bermuara dari Dataran Tinggi Dieng, di mana pembukaan lahan pertanian sayuran terus meluas. Namun pelaku utamanya bukan semata-mata petani yang serakah. Mereka adalah korban dari logika ekonomi yang tidak memberi pilihan lain. Awan menyebutkan bahwa rata-rata petani di Banjarnegara hanya menguasai lahan sekitar 0,5 hektar per kepala keluarga, hasil pertanian dalam skala itu tidak pernah cukup untuk menutup kebutuhan hidup. Terjepit antara keharusan bertahan hidup dan sempitnya lahan, petani membuka lahan baru mendorong batas ke lereng-lereng yang seharusnya tidak disentuh, menanam kentang dan sayur yang menguntungkan secara jangka pendek tetapi tidak meninggalkan tutupan vegetasi yang mampu menahan kontur tanah.
Akibatnya berlapis-lapis. Tanah yang kehilangan penguat akarnya luruh ke sungai. Kali Merawu melebar dan mendangkal secara bersamaan. Jembatan-jembatan di sepanjang aliran sungai itu kini menggantung. Cor-corannya terkikis dari bawah, fondasinya tergerus tanah yang terus berpindah ke hilir. Dan tanah itu, pada akhirnya, bermuara di Bendungan Jenderal Sudirman. Jika sedimentasi terus dibiarkan tanpa penanganan serius, bendungan ini berpotensi tidak mampu lagi menahan beban. Jebolnya bendungan akan menjadi bencana berskala regional. Wilayah-wilayah di bawahnya, yakni Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara bagian barat, akan menghadapi ancaman banjir besar yang dampaknya jauh melampaui kemampuan penanganan lokal.
Tentang Kegiatan
Nobar dan diskusi film Pesta Babi merupakan bagian dari upaya tujuh organisasi penyelenggara untuk membangun kesadaran kritis di masyarakat mengenai isu agraria, hak petani, dan ancaman militerisasi terhadap ruang hidup rakyat. Kehadiran peserta yang melampaui kapasitas pendaftaran mencerminkan besarnya kebutuhan ruang diskusi semacam ini di tingkat akar rumput. Banjarnegara, 24 Mei 2026